Langsung ke konten utama

Jika Kamu Ingin Menjadi Pemimpin, Belajarlah Menjadi Pengikut

Halo Game of Throne lovers...

Aku mau sharing tentang Life Lesson yang diajarkan oleh Jeor Mormont, Lord Commander Night Watch yang ke 997. Aku percaya bahwa pembelajaran dan sign / clue untuk kita untuk naik level, ada di mana saja, bahkan di tempat yang paling konyol sekalipun. 

Oke kita langsung masuk ke pembahasan ya...

Pada season 2, Night Watch sedang menghadapi sekutunya Craster, dan pimpinan dari Craster itu memiliki gaya hidup membuat Jon Snow membencinya, yaitu menjadikan anak-anak perempuannya sebagai istrinya. Dan karena diprovokasi juga oleh teman-temannya, Jon Snow pun menganggap remeh pimpinan Craster tersebut. Kemudian Jeor Mormont memberikan nasehat agak tegas kepada Jon Snow. 

"Apakah kamu ingin memimpin suatu hari?". Jon Snow mengangguk. "Kalau begitu, belajarlah untuk mengikuti".

So, ini yang aku dapat gais :D 

Kenapa, untuk jadi pemimpin, kita harus belajar mengikuti dulu? 




Empati dan Pengertian:
Sebagai pengikut, seseorang belajar tentang kebutuhan, tantangan, dan harapan dari mereka yang dipimpin. Ini membantu pemimpin untuk lebih memahami bagaimana membuat keputusan yang adil dan bijaksana yang mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Sesederhana kita mematuhi aturan di rumah yang sudah dibuat oleh orangtua kita. Hal-hal baik yang mereka ajarkan, kita jalani, kita taati dengan sepenuh hati dan rasa ikhlas. Kita laksanakan dengan hati yang penuh berterimakasih dan bersyukur karena menjadi orangtua yang baik kepada kita, dengan segala kelemahan dan kesalahannya, mereka tetap berjuang menjadi orangtua kita dan memegang tanggung jawab yang besar menjaga kita. Pemimpin, harus mengerti hal-hal seperti itu, kita belajar dari mengikuti orangtua kita. Dan mungkin jika kita tergabung dalam sebuah kelompok, organisasi / komunitas, jadilah anggota yang berdedikasi dan mengambil perannya 100%. Pemimpin, harus berdedikasi 100% bukan? 

Kerendahan Hati:
Memahami banyak pengetahuan, bukan berarti menjadi yang paling benar dan paling tahu. Orang yang rendah hati, cenderung akan lebih bijak, bahwa pengetahuan teoritikalnya, terbatas oleh realita dan dinamika yang terjadi pada suatu kelompok, mulai dari bagaimana terbentuknya, value yang dianut, hingga pemahaman mereka sendiri terhadap apa yang mereka kerjakan. Bahwa perspektif lain dan menghargai bahwa orang lain adalah wawasan yang berharga juga seperti pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya yang mungkin lebih baik dari orang lain. Jadi bersikap rendah hatilah dan terbuka untuk terus belajar dan berkembang.

Ketika kamu dalam suatu kepemimpinan yang mungkin membuat kamu merasa kurang pas atau mungkin tidak suka sama sekali, karena satu hal dan lainnya, dan kamu merasa kamu punya pengetahuan dan moral yang lebih baik pada saat itu untuk menentukan bagaimana seharusnya seorang pemimpin yang baik, "jangan pernah merasa lebih tahu atau lebih hebat, karena kita ga lebih hebat dari siapapun". 
Apapun caranya, bagaimanapun latar belakangnya, orang tersebut berhasil mencapai posisi tersebut, dengan segala kekurangan dan kesalahan yang dia miliki. Jadi, kalau kita merasa memang lebih hebat, lebih tahu, lebih punya moral atau nilai yang baik, jadilah yang terbaik pada peran kita, susunlah strategi sesuai moral dan nilai yang kita percaya, hingga kita bisa mendapatkan posisi di atas itu, yang kita anggap orang yang sekarang sedang memimpin, tidak pantas mendudukinya. Pahami alur dan lihat pengikutnya, bagaimana cara kamu masuk untuk mendapatkan apa yang menurut kamu benar dan baik itu dalam kepemimpinan. Mulailah dengan bermain dulu dalam permainannya. 

Belajar dari Pengalaman:
Dengan menjadi pengikut, seseorang bisa mengamati dan belajar dari pemimpin lain, baik dari kesuksesan maupun kegagalan mereka. Ini memberikan wawasan tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam kepemimpinan.

Ketika kamu menjadi anggota dari kelompok grup belajar atau kelompok belajar di kampus, kamu bisa belajar dari ketua kelompok, apa saja hal-hal yang kurang dan hal-hal yang perlu dipertahankan. Itu bisa menjadi catatanmu untuk suatu hari kamu memimpin sebuah kelompok baik di sekolah, kampus maupun pekerjaan. Kembangkan cara kepemimpinan yang kamu pelajari dari pemimpin kamu saat ini dengan berbagai studi pustaka. Kesalahannya, membantu kamu untuk tidak jatuh di jurang yang sama, dan membuat kamu lebih cepat berkembang. Kesalahan dia, adalah pelajaran luar biasa untuk kamu suatu hari ketika di posisi yang sama. 

Kerjasama Tim:
Kepemimpinan bukan hanya tentang memberi perintah, tetapi juga tentang bekerja bersama tim untuk mencapai tujuan bersama. Dengan belajar menjadi pengikut, seseorang memahami pentingnya kolaborasi dan komunikasi yang efektif dalam sebuah tim.

Keberhasilan suatu rumah tangga, kelompok di sekolah, komunitas dan tim pekerjaan, adalah karena kerjasama yang baik. Pemimpin, tanpa tim, tidak akan bisa mewujudkan apa-apa. Ketika kamu di dalam tim, kamu bisa melihat bagaimana dirimu sendiri bekerja, teman-temanmu bekerja, bagaimana pemimpin mengarahkan, menginspirasi dan memotivasi timnya. Jika kamu tidak pernah paham arti dari sebuah kerjasama tim, dan belajar menjadi tim yang baik bersama anggotamu, kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin yang bisa mewujudkan suatu visi atau goal dengan kekuatan tim yang kamu miliki. 

Pengembangan Keterampilan:
Mengikuti memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan seperti mendengarkan, mematuhi instruksi, dan mengelola tugas dengan baik—semua hal ini adalah fondasi bagi kepemimpinan yang efektif.

Sesederhana menjadi seorang kakak untuk adik-adik di rumah. Kakak adalah pemimpin untuk adik-adiknya yang diberi kepercayaan dari orangtuanya. Kakak harus bisa melihat hal yang lebih luas daripada adik-adiknya. Yang harus kakak pegang adalah visinya, sedangkan yang harus dilakukan adik-adiknya adalah menjalakan visi tersebut. Misalnya, visi di rumah adalah rumah harus rapih. Kakak harus membuat pengelolaan, bagaimana supaya rumah harus rapih itu berjalan. Siapa harus melakukan apa, dan kakak harus melakukan yang mana. Pengelolaan kecil tersebut, adalah pembelajaran yang luar biasa untuk pengelolaan yang lebih besar nanti. 

Apakah kalian pernah mendengar istilah jika kamu tidak bisa mensyukuri hal kecil, maka kamu juga tidak bisa mensyukuri hal yang besar. Sama dengan, jika kamu tidak bisa mengorganize hal kecil, bagaimana kamu bisa mengornize hal yang lebih besar. Pada saat kita mengikuti arahan, kita belajar untuk mengelola hal-hal kecil, mulai dari yang melibatkan diri kita sendiri, hingga yang bisa kita delegasikan ke teman-teman kelompok kita. Memahami itu secara perlahan, akan membantu kita saat mengelola sebagai pemimpin. Karena pemimpin harus bisa mengelola hal yang lebih besar, memikirkan yang lebih prinsip dibandingkan teknis. Sehingga untuk hal-hal yang teknikal kita harus delegasi kepada tim kita yang sudah sama-sama tahu itu tugasnya. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

When You Play the Game of Throne, You WIN or You DIE

Episode: Season 1, Episode 7 – “You Win or You Die” Ned Stark, sosok yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kebenaran, menemukan fakta bahwa Joffrey bukan anak sah Raja Robert. Ia dengan penuh keyakinan memilih untuk mengungkap kebenaran, berpikir bahwa hukum akan berpihak padanya. Namun, Cersei Lannister sudah bermain di level kekuasaan yang berbeda. Ia memperingatkan Ned dengan kalimat legendaris: “When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground.” Akhirnya, Ned dikhianati oleh orang yang tampak setia, tidak punya cukup dukungan politik, dan dihukum mati. Life Lesson-nya: Jangan mengandalkan moralitas di medan yang dikuasai oleh kekuasaan dan intrik. Dunia tidak selalu memberi tempat bagi orang yang terlalu idealis. Dalam kehidupan nyata, kejujuran dan integritas sangat berharga, tetapi perlu diimbangi dengan strategi dan kecermatan dalam membaca situasi. Kebaikan hati tanpa kecerdikan bisa membawa pada kehancuran. Kebaikan dan kejujuran it...

Dua Hal Terpenting di Dunia, yaitu "Agama" dan "Negara"

  Halo Game of Throne lovers... Aku mau sharing tentang  Life Lesson  yang diajarkan oleh Cercie Lannister, istri dari Robber Baratheon, kekasih dari saudara laki-laki kandungnya, Jaime Lannister. Aku percaya bahwa pembelajaran dan sign / clue untuk kita untuk naik level, ada di mana saja, bahkan di tempat yang paling konyol sekalipun.  Oke kita langsung masuk ke pembahasan ya... Pada season 5, episode 3, Cercie Lannnister menemui High Sparrow karena telah melakukan penghinaan kepada High Septonnnya di King's Landing yang rusak moral. Mereka sedang berdiskusi tentang agama dan moral. Lalu Cercie mengatakan: "The faith and the crown are the two pillars that hold up this world. If one collapses, so does the other." "Iman dan tahta adalah dua pilar yang menopang dunia ini. Jika salah satunya runtuh, yang lainnya juga akan runtuh." Tahta yang dimaksud oleh Cercie adalah kekuasaan & kerajaan di ibu kota, King's Landing. Dengan kata lain, negara / nation. Pada...